Bukan Sekadar Kecelakaan, Insiden Kaligawe Sentil Lemahnya Manajemen PerlintasanIlustrasi Insiden Kaligawe Sentil Lemahnya Manajemen Perlintasan

Bukan Sekadar Kecelakaan, Insiden Kaligawe Sentil Lemahnya Manajemen Perlintasan

Semarang – Tabrakan antara Kereta Api Harina dan truk trailer di perlintasan sebidang Kaligawe, Semarang, Selasa (21/10/2025), kembali membuka mata publik tentang persoalan lama yang tak kunjung selesai: keselamatan di perlintasan sebidang. Meski tak menimbulkan korban jiwa, insiden ini nyaris berujung tragedi.

Video amatir yang beredar memperlihatkan detik-detik menegangkan saat truk trailer berwarna merah terjebak di tengah rel, hanya beberapa detik sebelum kereta melintas. Klakson panjang lokomotif menggema, tapi jarak terlalu dekat untuk menghindar. Tabrakan pun tak terelakkan.

“Truknya macet di tengah karena lalu lintas padat. Sopir sudah disuruh turun sebelum kereta datang,” ujar Subhan, warga sekitar yang sempat membantu mengatur arus lalu lintas.

Sopir truk, Riyah (27), selamat setelah sempat keluar dari kabin. Namun truknya terpental berputar hingga menghantam salah satu gerbong kereta.

Insiden di Kaligawe bukan kali pertama. Data KAI Daop IV Semarang mencatat, setiap tahun masih ada sejumlah kejadian serupa di jalur-jalur perlintasan tanpa palang otomatis. Kaligawe sendiri dikenal sebagai kawasan padat lalu lintas dengan jalur ganda dan kerap tergenang air saat hujan, membuat kendaraan mudah terjebak di tengah rel.

“Perlintasan sebidang seperti ini memang menjadi titik rawan. Butuh kolaborasi pemerintah daerah dan pihak terkait untuk menata ulang sistem keamanannya,” ujar Franoto Wibowo, Manager Humas KAI Daop IV Semarang.

Franoto menambahkan, KA Harina yang terlibat tabrakan mengalami kerusakan di lokomotif dan kereta pembangkit. Setelah pemeriksaan dan penggantian unit, perjalanan baru dilanjutkan sekitar pukul 20.00 WIB, dengan keterlambatan lebih dari tiga jam.

Meski insiden berakhir tanpa korban, para pengguna jalan dan warga sekitar berharap kejadian ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat penutupan perlintasan sebidang di area padat.

“Setiap tahun kejadian seperti ini terus berulang. Harus ada langkah tegas — misalnya membuat underpass atau flyover,” ujar Bambang, warga Tambakrejo.

Kecelakaan di Kaligawe menjadi pengingat bahwa di tengah modernisasi transportasi, persoalan keselamatan dasar di perlintasan sebidang belum tuntas. Tanpa pembenahan nyata, ancaman nyawa masih mengintai setiap kali klakson kereta terdengar di kejauhan. (Bank)