Warga Lereng Semeru Siaga, Gunung Erupsi Delapan Kali Sejak Dini HariIlustrasi Gunung Erupsi Delapan Kali Sejak Dini Hari

Warga Lereng Semeru Siaga, Gunung Erupsi Delapan Kali Sejak Dini Hari

Lumajang - Asap tebal membumbung dari puncak Gunung Semeru sejak dini hari, menandai serangkaian erupsi yang terjadi hingga delapan kali pada Minggu (2/11/2025) pagi. Meski status gunung tertinggi di Pulau Jawa itu masih di level Waspada (Level II), warga di sekitar lereng kini kembali hidup dalam kewaspadaan penuh.

Liswanto, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru di Gunung Sawur, menyebutkan bahwa erupsi pertama terjadi pada pukul 03.32 WIB dengan kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak. “Erupsi terus berulang hingga pukul 06.49 WIB dengan tinggi kolom letusan mencapai 800 meter,” ujarnya dalam laporan resmi.

Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan arah sebaran ke barat daya dan selatan. Meski belum ada laporan dampak signifikan terhadap permukiman, sejumlah desa seperti Supiturang, Sumberwuluh, dan Curah Kobokan mulai dilaporkan bersiap menghadapi potensi hujan abu dan lahar hujan.

“Warga sudah terbiasa, tapi tetap cemas. Kami sudah siapkan masker dan air bersih,” kata Roni, warga Supiturang, yang setiap kali mendengar suara gemuruh gunung langsung memastikan keluarganya dalam keadaan aman.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 8 kilometer di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, serta menjaga jarak 500 meter dari aliran sungai yang berpotensi dilalui awan panas dan lahar.

Selain ancaman erupsi, potensi lahar dingin juga meningkat seiring masuknya musim hujan. “Setiap kali hujan deras, warga harus waspada karena material vulkanik bisa terbawa air,” tambah Liswanto.

Sementara itu, relawan dan aparat gabungan dari BPBD Lumajang terus bersiaga di sejumlah titik rawan. Mereka menyiapkan jalur evakuasi dan pos darurat, mengantisipasi jika aktivitas vulkanik meningkat.

“Semeru itu tidak bisa ditebak. Kami harus siap kapan saja,” kata Rini, relawan lokal yang sudah hampir lima tahun aktif membantu warga setiap kali gunung itu batuk.

Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut, dikenal sebagai salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Letusan kali ini kembali menjadi pengingat betapa kehidupan di kaki Semeru selalu berdampingan dengan risiko alam — antara keindahan dan ancaman yang datang silih berganti. (bank)