Korban Banjir di Tapteng dan Tapsel Capai 19 Orang, Evakuasi Masih Terus DilakukanIlustrasi Korban Banjir di Tapteng dan Tapsel Capai 19 Orang

Korban Banjir di Tapteng dan Tapsel Capai 19 Orang, Evakuasi Masih Terus Dilakukan

Jakarta - Operasi pencarian dan penyelamatan korban banjir serta tanah longsor di Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), hingga sebagian wilayah Tapanuli Selatan (Tapsel) sudah memasuki hari ketiga. Bencana ini dipicu hujan deras yang turun sejak Kamis (27/11/2025) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB dan menyebabkan banjir di berbagai titik.

Situasi semakin memburuk setelah pintu air PLTA Sipan Sipahoras dibuka pukul 10.00 WIB karena debit air sudah melewati batas aman. Hal ini membuat luapan air semakin besar dan merendam permukiman warga. Hujan yang tidak kunjung reda hingga sore hari juga menyebabkan tanah labil dan terjadi longsor di sejumlah lokasi.

Tim dari Pos SAR Sibolga bersama ABK KN SAR Nakula langsung dikerahkan untuk melakukan evakuasi. Proses pencarian dipusatkan di wilayah terdampak, terutama di titik yang sulit dijangkau. 19 Orang Meninggal, 24 Masih Dicari

Kepala Kantor SAR Nias, Putu Arga Mataram menyampaikan bahwa hingga kini jumlah korban meninggal mencapai 19 orang. Dari total 1.952 kepala keluarga terdampak, sebanyak 130 orang dinyatakan selamat, 149 berhasil dievakuasi, sedangkan 24 orang masih dalam pencarian.

Adapun wilayah yang tergenang banjir meliputi Badiri, Pinangsori, Lumut, Sarudik, Tukka, Pandan, Tapian Nauli, dan Kolang. Sementara longsor terjadi di tujuh titik di Tapteng serta sejumlah desa di Tapsel.

GOR Pandan menjadi salah satu lokasi pengungsian dengan jumlah pengungsi mencapai 447 jiwa, terdiri dari 89 pria dewasa, 96 wanita dewasa, 109 anak-anak, 43 bayi, dan 10 lansia. Beberapa warga sudah mulai kembali ke rumah karena air mulai surut, namun sejumlah daerah seperti Perumahan Toholand dan Tanahbolon masih belum bisa diakses.

“Akses menuju beberapa lokasi terputus total. Jalan dari Tarutung menuju Sibolga amblas dan diperkirakan butuh tiga sampai empat hari untuk membangun jembatan darurat,” jelas Arga.

Selain tingginya debit banjir, tim SAR juga menghadapi kendala lain seperti jaringan komunikasi yang terputus, listrik padam, serta kondisi cuaca yang masih tidak stabil. Kantor SAR Nias belum bisa bergerak ke sejumlah lokasi karena gelombang tinggi dan area blankspot, sementara Kansar Medan juga belum dapat maju karena akses darat terputus.

Hingga kini, upaya evakuasi masih terus dilakukan di tengah tantangan lapangan. Aparat terus menyisir wilayah yang masih terisolasi untuk mencari korban dan mengevakuasi warga yang belum terselamatkan.(ref)